KERBAU
| AKAN TETAPI… Hari ini kita tidak boleh menutup mata, banyak sekali “Kerbau”, bagaimana tidak? Disetiap lini kerja bidang apapun, juga birokrasi dan sistem yang dibuat membuat kita tidak berdaya… pada saat kita pada posisi melaksanakan tugas yang bertentangan dengan NURANI, tapi tidak kuasa untuk memberontak karena “SISTEM” yang begitu kompleks sehingga “tugas” tersebut tetap kita jalankan walaupun dengan berat. Jika sudah seperti ini siapa yang salah…? Sistem yang dibuat? Sipembuat Sistem? atau Pelakunya? Tidak jarang pasti kita dihadapkan pada posisi seperti diatas (seperti saya -mungkin) Menurut saya jika kita pada posisi seperti di atas… maka kita tidak lebih seperti “Kerbau yang dicocok hidungnya”, benarkah? Bagaimana kita dapat merubah kondisi seperti itu? jawabannya ada pada kita. |
Sistem tetaplah sistem yang hanya mementingkan kepentingan sebagian pihak, diperlukan kekuatan dan etika yang baik untuk menjauh dari “sistem dan birokrasi yang tidak halal”. Mampukah Kita?


Koq malah masih tanya…
Yach, karena keadilan manusia itu “tidak adil” seperti halnya keadilan-Nya…
Mampukah kita?
Yaa… usaha aja sekuatnya, jika nanti ternyata muncul alasan yg ckup kuat untuk hengkang, yaa, hengkang-lah. Kaya’ Pak Onno gtu-lah pengandaiannya
Kejadian seperti yang saya gambarkan ini pasti terjadi hampir di semua bidang pekerjaan!
Apakah kita mempunyai kemampuan seperti Onno WP (waktu itu pekerjaan = PNS) ?
Jika ya bisa bisa aja hengkang dari pekerjaan, tapi jika sebaliknya?
apa anda sudah tahu apa yang akan terjadi besok….
Oleh karena itu yang terpenting adalah mensyukuri pekerjaan kita sekarang ini dan beruasa sekuatnya (betul itu Sir
) untuk berbirokrasi yang sehat dan halal.
Ketigax™ ! (halahhh…. )
Wah, jadi memang selama ini tuh bukan salah bunda mengandung, tapi memang salah Si Sistem yang membuat kita terkungkung. Akhirnya masalah pun menggunung, jiwa pun terpasung, dan langkah kita tersandung-sandung. Nasib yang kian terkatung-katung, semakin membuat kita murung dan tak habis-habisnya merenung. Tak urung, si pencocok hidung malah menyeringai dengan dada membusung..
Akhirnya komen saya ndak nyambung…
hehehe… bukankan selama ini Bapak kita berpesan, “Jika memang di hati njenengan berkata TIDAK, beranilah untuk menjawabnya dengan TIDAK.”. Namun sering kali cocokan di hidung saya itu membuat kata “TIDAK” menjadi “YA”, karena talinya di-sendhal ke atas. Saya ucapkan “YA” sambil meringis kesakitan, sakit di dalam hati.
Akankah cerita seperti ini terus bersambung… ?
jadi? gampangkan cari kerbau?